Ku berdiri ditengah taman yang
disinari cahaya langit nan sangat indah, dikelilingi rerumputan hijau asri,
bunga-bunga cantik dengan warna merona, sekumpulan kupu-kupu berterbangan mengitari taman seolah
melengkapi suasana dikala itu. Dari kejauhan kulihat bayangan seseorang mendekatiku. Mulai dekat dan
semakin dekat, Mulai Nampak dan terlihat jelas siapa seseorang dibalik cahaya
terang benderang itu. Aku pun dibuat berdejak kagum karenanya, diam terpana
tak berucap tak berkedip pula. Serasa yang kulihat adalah seseorang yang dekat
dan telah lama ku kenal. Bola matanya bening dan indah, kulitnya kuning bersih,
hidungnya mancung lancip, rona merah nan manis mewarnai pipi gadis itu seakan
lebih sempurna dengan bibirnya yang merah tipis yang cantik secantik kelopak
Bunga mawar. Setelah kuperhatikan dengan seksama, “Subhanallah benar-benar
Gadis yang ayu, terlihat begitu anggunnya terlebih karena dibalut Hijab dan gamis
putih bermotif bunga-bunga yang sangat pas jika ia kenakan”.
Tapi siapa
sebenarnya Gadis ini, Sambil menengadahkan wajahnya ia terus berjalan ke
arahku. Dalam hati ku bertanya-tanya Ya Rab siapa sebenarnya Gadis ini, apakah
ia yang disebut dengan bidadari? sungguh betapa anggunnya dia. Rupanya ia
benar-benar menghampiriku kemudian menyapaku sambil berucap “Assalamualiakum...”.
Dengan segera kujawab “Walaikumsalam...” Ia hanya membalas jawaban salam yang
kuucap dengan senyuman manis yang nampak sangat ikhlas dan tulus dari dalam
hatinya.Kulihat lesung manis dari kedua pasang pipinya, sejujurnya dalam diamku
tak bisa ku menahan rasa kagum dan ketertarikanku padanya. Tiba-tiba dari ujung
langit yang cerah semua sekejap berubah menjadi terang dan lebih terang lagi
hingga tak ku melihat apapun kecuali suara kumandang Adzan Subuh yang
membangunkanku dari tidur yang lelap. Astaghfirullah!!! Mimpi apa aku barusan,
maha besar engkau ya Allah yang maha kuasa lagi maha pencipta. Mengapa mimpi
ini seolah-olah terasa nyata, hampir setiap hari kudapatkan mimpi yang sama.
Terlebih lagi mengapa Gadis yang anggun bagai Bidadari itu terus
terbayang-bayang dalam benakku.
Ampunkan hamba
Ya Rab, dengan nikmat mimpimu ini tak ingin ku berpaling dari rasa syukur yang
telah engkau berikan pada hambamu ini. Tadi itu benar-benar berkesan dihati,
Bagaimana bisa aku merasa sebahagia ini walaupun itu hanya mimpi. Tidak hanya
sesekali mimpi semacam ini datang, Ingin sekali rasanya jika mimpi yang ada
bisa benar-benar terwujud dalam kehidupanku yang nyata. Sudahlah, dari pada aku
terus memikrkannya lebih baik aku segera bergegas mencari masjid untuk sembahyang subuh. Namaku Rizal di usia yang
terbilang cukup matang ini (29 tahun), aku berprofesi sebagai Pegawai tetap Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kudus Jawa Tengah yang diposisikan dalam
Divisi Pengembangan dan Pelestarian
Budaya. Saat ini aku mendapat amanat dari atasanku untuk melakukan penelitian
mengenai kearifan Batik lokal di Kota Solo Jawa Tengah yang tepatnya di Daerah
Jaten Karanganyar. Atasanku adalah orang yang pengertian dan bijaksana, Beliau
bernama Pak Sofyan. Selain sebagai seorang atasan, Beliau sudah kuanggap seperti
Ayahku, sekaligus sebagai pelengkap Keluarga tepatnya setelah Ayah kandungku yang telah meninggal dunia sekitar 5 tahun
yang lalu.
Tentu
saja amanat yang beliau percayakan padaku akan kukerjakan dengan penuh rasa
tanggung jawab layaknya seorang anak yang patuh pada orang tuanya. Oh ya, Aku
masih memiliki seorang Ibu yang benar-benar sangat menyayangiku. Saat di rumah
(Kudus) hampir setiap hari kami selalu bersama, dikarenakan Ayah telah tiada
dan Aku hanyalah satu-satunya buah hatinya. Kerap kali Ibu berpesan, “Le mbok
yo cepet-cepet cari jodoh apa yo ndak kasihan lihat Ibukmu sering sendirian di
rumah, apalagi kamu itu sering dinas keluar kota. Kalau Ibuk sudah punya cucu
dan menantu kan penak to le ada temennya di Rumah”. Kerap kali kujawab
pertanyaan ibuku dengan jawaban “nggeh buk jodone kan teseh ten mimpi mungkin
sekedap maleh mpun njedul buk/(iya bu jodohku kan masih di mimpi mungkin
sebentar lagi muncul kok buk)”. Begitulah caraku menghindari berbagai pertanyaan
soal jodoh dari Ibuku. Dengan jawaban itu terkadang Beliau kesal, tertawa,
bahkan tersenyum. Tetapi berbeda dengan biasanya, dua hari yang lalu sebelum
aku meninggalkan Kota kelahiranku yaitu Kudus. Kulihat ekspresi Ibu berbeda
dengan biasanya, senyumnya yang menawan tak terlihat lagi dari raut wajaahnya
yang cantik walau telah dimakan usia. Aku merasa bahwa candaanku sama sekali
tak menghibur dirinya, mungkin inilah waktu dimana aku harus serius dan
berkomitmen untuk mencari seorang pendamping hidup yang dapat membahagiakan Ibu
dan mengembalikan senyumnya yang telah lama hilang.... (lanjut part 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar