Selasa, 29 Agustus 2017

SANG BIDADARI MIMPI part 1

            Ku berdiri ditengah taman yang disinari cahaya langit nan sangat indah, dikelilingi rerumputan hijau asri, bunga-bunga cantik dengan warna merona, sekumpulan kupu-kupu  berterbangan mengitari taman seolah melengkapi suasana dikala itu. Dari kejauhan kulihat bayangan seseorang mendekatiku. Mulai dekat dan semakin dekat, Mulai Nampak dan terlihat jelas siapa seseorang dibalik cahaya terang benderang itu. Aku pun dibuat berdejak kagum karenanya, diam terpana tak berucap tak berkedip pula. Serasa yang kulihat adalah seseorang yang dekat dan telah lama ku kenal. Bola matanya bening dan indah, kulitnya kuning bersih, hidungnya mancung lancip, rona merah nan manis mewarnai pipi gadis itu seakan lebih sempurna dengan bibirnya yang merah tipis yang cantik secantik kelopak Bunga mawar. Setelah kuperhatikan dengan seksama, “Subhanallah benar-benar Gadis yang ayu, terlihat begitu anggunnya terlebih karena dibalut Hijab dan gamis putih bermotif bunga-bunga yang sangat pas jika ia kenakan”.
Tapi siapa sebenarnya Gadis ini, Sambil menengadahkan wajahnya ia terus berjalan ke arahku. Dalam hati ku bertanya-tanya Ya Rab siapa sebenarnya Gadis ini, apakah ia yang disebut dengan bidadari? sungguh betapa anggunnya dia. Rupanya ia benar-benar menghampiriku kemudian menyapaku sambil berucap “Assalamualiakum...”. Dengan segera kujawab “Walaikumsalam...” Ia hanya membalas jawaban salam yang kuucap dengan senyuman manis yang nampak sangat ikhlas dan tulus dari dalam hatinya.Kulihat lesung manis dari kedua pasang pipinya, sejujurnya dalam diamku tak bisa ku menahan rasa kagum dan ketertarikanku padanya. Tiba-tiba dari ujung langit yang cerah semua sekejap berubah menjadi terang dan lebih terang lagi hingga tak ku melihat apapun kecuali suara kumandang Adzan Subuh yang membangunkanku dari tidur yang lelap. Astaghfirullah!!! Mimpi apa aku barusan, maha besar engkau ya Allah yang maha kuasa lagi maha pencipta. Mengapa mimpi ini seolah-olah terasa nyata, hampir setiap hari kudapatkan mimpi yang sama. Terlebih lagi mengapa Gadis yang anggun bagai Bidadari itu terus terbayang-bayang dalam benakku.
Ampunkan hamba Ya Rab, dengan nikmat mimpimu ini tak ingin ku berpaling dari rasa syukur yang telah engkau berikan pada hambamu ini. Tadi itu benar-benar berkesan dihati, Bagaimana bisa aku merasa sebahagia ini walaupun itu hanya mimpi. Tidak hanya sesekali mimpi semacam ini datang, Ingin sekali rasanya jika mimpi yang ada bisa benar-benar terwujud dalam kehidupanku yang nyata. Sudahlah, dari pada aku terus memikrkannya  lebih baik aku segera bergegas mencari masjid untuk sembahyang subuh. Namaku Rizal di usia yang terbilang cukup matang ini (29 tahun), aku berprofesi sebagai Pegawai tetap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kudus Jawa Tengah yang diposisikan dalam Divisi  Pengembangan dan Pelestarian Budaya. Saat ini aku mendapat amanat dari atasanku untuk melakukan penelitian mengenai kearifan Batik lokal di Kota Solo Jawa Tengah yang tepatnya di Daerah Jaten Karanganyar. Atasanku adalah orang yang pengertian dan bijaksana, Beliau bernama Pak Sofyan. Selain sebagai seorang atasan, Beliau sudah kuanggap seperti Ayahku, sekaligus sebagai pelengkap Keluarga tepatnya setelah Ayah kandungku  yang telah meninggal dunia sekitar 5 tahun yang lalu.
Tentu saja amanat yang beliau percayakan padaku akan kukerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab layaknya seorang anak yang patuh pada orang tuanya. Oh ya, Aku masih memiliki seorang Ibu yang benar-benar sangat menyayangiku. Saat di rumah (Kudus) hampir setiap hari kami selalu bersama, dikarenakan Ayah telah tiada dan Aku hanyalah satu-satunya buah hatinya. Kerap kali Ibu berpesan, “Le mbok yo cepet-cepet cari jodoh apa yo ndak kasihan lihat Ibukmu sering sendirian di rumah, apalagi kamu itu sering dinas keluar kota. Kalau Ibuk sudah punya cucu dan menantu kan penak to le ada temennya di Rumah”. Kerap kali kujawab pertanyaan ibuku dengan jawaban “nggeh buk jodone kan teseh ten mimpi mungkin sekedap maleh mpun njedul buk/(iya bu jodohku kan masih di mimpi mungkin sebentar lagi muncul kok buk)”. Begitulah caraku menghindari berbagai pertanyaan soal jodoh dari Ibuku. Dengan jawaban itu terkadang Beliau kesal, tertawa, bahkan tersenyum. Tetapi berbeda dengan biasanya, dua hari yang lalu sebelum aku meninggalkan Kota kelahiranku yaitu Kudus. Kulihat ekspresi Ibu berbeda dengan biasanya, senyumnya yang menawan tak terlihat lagi dari raut wajaahnya yang cantik walau telah dimakan usia. Aku merasa bahwa candaanku sama sekali tak menghibur dirinya, mungkin inilah waktu dimana aku harus serius dan berkomitmen untuk mencari seorang pendamping hidup yang dapat membahagiakan Ibu dan mengembalikan senyumnya yang telah lama hilang.... (lanjut part 2)

Kamis, 21 Maret 2013

Kebo Landoh


                 ATAS jasanya menumpas agul-agul siluman Alas Roban, Saridin mendapat hadiah dari penguasa Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting kakak perempuannya, Retno Jinoli.

Akan tetapi, wanita itu menyandang derita sebagai bahu lawean. Maksudnya, lelaki yang menjadikannya sebagai istri setelah berhubungan badan pasti meninggal.

Dia harus berhadapan dengan siluman ular Alas Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli. Wanita trah Keraton Mataram itu resmi menjadi istri sah Saridin dan diboyong ke Miyono berkumpul dengan ibunya, Momok.

Saridin membuka perguruan di Miyono yang dalam waktu relatif singkat tersebar luas sampai di Kudus dan sekitarnya. Kendati demikian, Saridin bersama anak lelakinya, Momok, beserta murid-muridnya, tetap bercocok tanam.

Sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah, Momok minta dibelikan seekor kerbau milik seorang warga Dukuh Landoh. Meski kerbau itu boleh dibilang tidak lagi muda umurnya, tenaganya sangat diperlukan sehingga hampir tak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.

Mungkin karena terlalu diforsir tenaganya, suatu hari kerbau itu jatuh tersungkur dan orang-orang yang melihatnya menganggap hewan piaraan itu sudah mati. Namun saat dirawat Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti sedia kala.

"Membagi Nyawa"
Dalam peristiwa tersebut, masalah bangkit dan tegarnya kembali kerbau Landoh yang sudah mati itu konon karena Saridin telah memberikan sebagian umurnya kepada binatang tersebut. Dengan demikian, bila suatu saat Saridin yang bergelar Syeh Jangkung meninggal, kerbau itu juga mati.

Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa, kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh, meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak mempan.

Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian aneh itu membuat Momok memberikan senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya diberikan kepada para pelayat.

Kebiasan membagi-bagi daging kerbau kepada para pelayat untuk daerah Pati selatan, termasuk Kayen, dan sekitarnya hingga 1970 memang masih terjadi. Lama-kelamaan kebiasaan keluarga orang yang meninggal dengan menyembelih kerbau hilang.

Kembali ke kerbau Landoh yang telah disembelih saat Syeh Jangkung meninggal. Lulang (kulit) binatang itu dibagi-bagikan pula kepada warga. Entah siapa yang mulai meyakini, kulit kerbau itu tidak dimasak tapi disimpan sebagai piandel.

Barangsiapa memiliki lulang kerbau Landoh, konon orang tersebut tidak mempan dibacok senjata tajam. Jika kulit kerbau itu masih lengkap dengan bulunya. Keyakinan itu barangkali timbul bermula ketika kerbau Landoh disembelih, ternyata tidak bisa putus lehernya.












http://dewopati.blogspot.com/2011/11/saridin.html